Agar Tetap Semangat

Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat ketika akan menjalankan suatu project atau aktifitas tertentu tetapi kemudian Anda merasa lelah, lesu dan tak bersemangat lagi untuk melakukannya? Jangan bersedih, jika Anda pernah merasakan hal demikian, Anda tidak sendirian. Paling tidak, saya menjadi teman Anda.

Blog ini, misalnya. Saya memiliki project membuat blog seperti ini sudah lama sekali. Mungkin dari sejak tahun 2003. Alamat blog pun sudah berganti-ganti, dan posting-posting yang lama entah ke mana :) Kadang-kadang saya sering membuat posting, tetapi lebih sering saya menulis posting kadang-kadang. Hehe :)

Di bulan Maret 2012 ini saya mendapatkan 2 buah kiat dari sumber yang berbeda, bagaimana agar tetap semangat dalam menjalankan suatu project atau menjalankan aktifitas lainnya.

1. Berorientasi Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri
Jika selama ini Anda melakukan aktifitas hanya untuk memenuhi kebutuhan Anda, hanya untuk mencari kepuasan diri sendiri, besar kemungkinan di tengah perjalanan Anda akan merasa lelah, terutama jika aktifitas yang dilakukan tidaklah mudah. Aktifitas seperti menulis blog misalnya, terlihat sangat mudah dan sederhana, tetapi dalam kenyataannya tidaklah mudah, karena membutuhkan konsistensi, dan tidak ada reward untuk diri sendiri.

Jika hanya berorientasi untuk diri sendiri, misalnya, menjadi blogger terkenal, atau mendapatkan penghasilan, mendapatkan pengunjung ribuan perhari, dan segala sesuatu yang berorientasi diri sendiri, besar kemungkinan Anda akan lelah dalam melaksanakannya. Tetapi jika Anda berorientasi untuk orang lain, misalnya, melalui blog seperti ini Anda bisa memberikan informasi yang berguna, atau inspirasi yang menggerakkan, atau bisa menghibur orang lain yang membaca, maka Anda akan lebih semangat dibuatnya.

2. Niat yang Ikhlas
Jika Anda melakukan suatu aktifitas dengan harapan mendapatkan pujian, misalnya, atau berharap mendapatkan reward yang lainnya, maka ketika pujian atau reward tersebut tak kunjung datang, besar kemungkinan Anda akan kecewa dan akhirnya tidak semangat lagi melakukannya. Tetapi jika Anda melakukan sesuatu dengan niat yang ikhlash, niat semata untuk berbuat kebaikan dan menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya, maka Anda akan tetap semangat melakukannya.

Itulah 2 buah kiat agar tetap semangat dalam menjalankan suatu project atau melakukan suatu aktifitas. Mudah-mudahan sejak saat ini Anda, dan saya tentunya, memiliki niat yang ikhlas dalam melakukan suatu aktifitas, dan berorientasi bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.

Tetap semangat! 
  
[ Read More ]

Peta Itu Ada di Mana-Mana

Salah satu kemudahan hidup di Singapura adalah mudahnya mencari alamat. Tinggal buka website gothere.sg, kemudian masukkan asal perjalanan dan tujuan perjalanan. Klik! Maka peta akan muncul di layar lengkap dengan titik awal dan tujuan perjalanan, beserta garis yang menghubungkannya. Akan muncul juga perkiraan waktu perjalanan jika kita memilih salah satu dari 3 moda transportasi yang tersedia, yaitu 1)jalan kaki 2)kendaraan umum (bis dan MRT) 3)kendaraan pribadi atau taxi.

Ketika saya menggunakan iPhone (smart phone keluaran apple), kemudahan itu menjadi semakin mudah lagi karena saya bisa melakukan pencarian alamat bukan hanya saat sebelum melakukan perjalanan, tetapi bisa juga melakukan pencarian pada saat saya sedang berada di dalam perjalanan. Lebih mudah lagi, karena dengan fitur GPS (Geo Positioning System) dan kompas, iPhone bisa menunjukkan arah ke sebelah mana saya harusnya berjalan.

Pada hari Sabtu, 24 Maret 2012, ketika saya menghadir workshop menulis yang diselenggarakan oleh IMAS dan FLP Singapura, Gol A Gong yang menjadi pemateri workshop bercerita tentang pengalaman dia mencari alamat di Singapura. Ketika dia bertanya tentang alamat kepada orang-orang yang dia temuinya di Singapura,  beragam jawaban diperolehnya. Ada yang cuek dan tidak peduli, ada yang menunjukkan di mana bisa melihat peta, ada juga yang menjawab "kenapa kamu tidak membawa peta?".

Yang menarik, Gol A Gong menjawab pertanyaan tersebut, "Buat apa saya membawa peta? Peta itu ada di mana-mana". Lantas si penanya yang orang bule itu penasaran, "Maksud kamu?". Gol A Gong menambahkan "Saya bisa bertanya kepada siapa saja yang saya temui di jalan". Si bule pun terkagum-kagum mendengarnya.

Hmm, saya juga terkagum-kagum saat mendengar Gol A Gong menyampaikan cerita tersebut. Saya merasa tersentak, sungguh selama ini saya terlalu tergantung kepada teknologi. Saya bahkan merasa akan mengalami kesulitan yang signifikan ketika teknologi tidak bisa digunakan, misalnya saat handphone ketinggalan, atau saat handphone low-bat dan akhirnya mati, sementara baterai cadangan tidak terbawa, atau saat tidak ada jaringan internet.

Saya mulai merasa teknologi menggeser nilai-nilai sosial. Saya merasa sudah mulai meninggalkan interaksi sosial kepada orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya lebih suka bertanya kepada benda kecil yang ada di genggaman saya, dan tidak peduli kepada orang-orang dan lingkungan di sekitar saya.

Saya berterima kasih kepada Gol A Gong yang telah menceritakan kisah inspiratif bahwa "Peta itu Ada di Mana-Mana". Sebagai wujud terima kasih, dalam kesempatan ini saya mempromosikan blog perjalanan Gol A Gong, www.mytravelwriter.com, yang berisi catatan perjalanan Gol A Gong bersama istrinya Tias Tatanka keliling dunia dan berbagi ilmu menulis kepada masyarakat di kota-kota yang dilaluinya.
[ Read More ]

Tobat Profesi

Saya sudah berulangkali mendengar kata tobat atau taubat, yaitu berhenti melakukan kesalahan dan memulai tindakan yang benar.

Tetapi saya baru mendengar istilah tobat profesi ketika saya sedang makan malam bersama Pak Jamil Azzaini di salah satu restoran masakan India di kawasan Bugis, Singapura, Ahad 25 Maret 2012.

Menurut Pak Jamil, banyak orang yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan potensi dirinya. Akibatnya, dia hanya menjadi orang yang biasa saja, prestasinya biasa saja.

Misalnya, orang "feeling" kurang tepat melakukan pekerjaan yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer. Dia seharusnya melakukan pekerjaan yang lebih banyak berhubungan dengan orang.

Bisa saja dia tetap melakukan pekerjaan yang tidak sesuai, tanpa masalah berarti dalam menjalaninya. Tetapi prestasi yang diraihnya akan biasa-biasa saja.

Jadi sebaiknya kenali diri Anda, apakah Anda tipe orang Thinking, Sensing, Intuiting, Feeling, atau Insting. Setelah itu, pilihlah profesi yang paling sesuai dengan personality Anda tersebut, supaya Anda bisa meraih prestasi terbaik.

Tapi, bagaimana kalau selama ini Anda sudah menjalani suatu profesi lebih dari 10 tahun, misalnya? Apakah iya Anda harus meninggalkan profesi lama dan menggantinya dengan profesi baru?

Menurut Pak Jamil, sebaiknya iya. Itulah yang namanya tobat profesi. Anda tinggalkan profesi yang lama dan ganti dengan profesi yang baru.

Lho, sia-sia dong keahlian dari profesi yang lama? Tidak ada yang sia-sia. Anda bisa menggunakan pengetahuan dan pengalaman pada profesi yang lama sebagai salah satu bekal menjalani profesi yang baru.

Tobat profesi mungkin tidak mudah. Tetapi jika Anda yakin dan terus berusaha, kelak Anda akan meraih prestasi terbaik Anda.

Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat.
[ Read More ]

Stop Stealing Dreams

Ada buku baru yang menarik, minimal menarik bagi saya, judulnya "Stop Stealing Dreams". Formatnya ebook, ditulis oleh Seth Godin, isinya berupa kumpulan tulisan yang pendek tapi provokatif. Karena berupa kumpulan tulisan-tulisan pendek, maka kita bisa membacanya secara acak, tidak perlu runut.

Inti buku ini adalah mempertanyakan relevansi sekolah (dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi) yang ada sekarang. Sistem sekolah yang ada sekarang dimulai pada sekitar 94 tahun yang lalu (1918) dan diciptakan dengan tujuan untuk mencetak kaum pekerja yang dibutuhkan oleh dunia industri.

Untuk jangka waktu tertentu, sistem ini berhasil. Tetapi untuk era sekarang sistem itu dipertanyakan lagi relevansinya. Kita sudah mulai melihat dan merasakan munculnya era post-newspaper, ketika koran tidak terlalu dibutuhkan karena berita dan informasi bisa diperoleh dengan mudah dan murah di internet. Sebentar lagi akan datang era post-broadcast TV, ketika siaran TV tidak lagi menarik, dan kita bisa mencari video-video yang berkualitas melalui "web-TV". Sekarang era post-industrialisasi, post-insitusi, di mana aktifitas bisnis akan lebih banyak didominasi oleh individu-individu yang kreatif, bukan institusi. Seiring dengan era post-industrialisasi, maka sangat mungkin sebentar lagi adalah era post-sekolah, post-akademi, post-universitas, karena proses pembelajaran bisa diperoleh dengan mudah dan murah melalui kelas-kelas online.

Internet telah berhasil membuat akses terhadap informasi menjadi semakin terbuka, akses yang sebelumnya tertutup dan hanya dimiliki oleh beberapa institusi sekolah (unggulan).

Lantas apa hubungannya dengan judul "Stop Stealing Dreams"? Sistem sekolah sekarang diselenggarakan dengan konsep penyeragaman. Setiap murid belajar hal yang sama, padahal belum tentu murid tersebut berminat dan belum tentu yang dipelajarinya kelak diperlukan. Dan karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri, sistem sekolah sekarang lebih menghargai murid yang patuh, yang tidak neko-neko. Dengan kata lain potensi murid untuk bertanya hal-hal yang ektrim dan bermimpi hal-hal yang luar biasa, tidak terakomodasi, bahkan cenderung dimatikan.

Sebelum terlambat, hendaknya anak-anak sekarang diajarkan pelajaran leadership dan problem solving, karena skill tersebut semakin dibutuhkan di era yang cepat berubah seperti sekarang, sementara sekolah kurang memberikan perhatian kepada hal tersebut.

Sekolah dipertanyakan, ketika begitu banyak waktu yang terbuang di sekolah, yang seharusnya bisa diisi untuk mempelajari hal-hal lain yang sesuai minat dan kebutuhan.

Bagi yang tertarik membacanya, ini tautan untuk mengunduhnya secara cuma-cuma http://www.squidoo.com/stop-stealing-dreams
[ Read More ]

Rekomendasi Teman dan Mesin Pencari

Suatu hari saya ingin membeli ADSL modem + router + wifi untuk dipasang di rumah, di Bogor. Produk tersebut akan digunakan karena di rumah di Bogor baru saja berlangganan internet leased-line dari Telkom, yaitu Speedy. Saya belum tahu merek dan tipe apa yang akan saya beli.

Jika Anda berada pada posisi saya, apa yang akan Anda lakukan? Pergi ke pusat penjualan produk elektronik dan komputer seperti mangga dua, kemudian mencari merek dan tipe produk di toko-toko yang ada di sana? Atau membuka website toko online yang menjual produk elektronik dan komputer dan melihat berbagai merek dan tipe yang ada di website tersebut? Atau googling alias mencari merek dan tipe modem di mesin pencari Google? Atau bertanya kepada teman lewat SMS, telpon, chatting, email, atau media sosial seperti Twitter & Facebook?

Mungkin banyak yang berpendapat jika ingin mencari sesuatu pada saat ini cukup mencarinya di mesin pencari seperti Google. Tidak ada yang salah dengan pendapat tersebut selama hasil pencariannya cukup memuaskan. Yang menjadi masalah adalah, tidak jarang informasi yang dihasilkan mesin pencari tidak memuaskan. Ya namanya juga mesin pencari, ia adalah sebuah mesin, bukan manusia. Lantas adakah hasil yang lebih baik daripada mesin pencari? Jawabnya tentu saja ada, yaitu rekomendasi saudara, tetangga, atau teman yang mungkin pernah memakai produk yang kita cari, atau memiliki expertise di bidang tertentu yang berhubungan dengan produk atau jasa yang ingin kita cari.

Intinya, yang pertama saya lakukan adalah mencari rekomendasi teman. Saya ingat-ingat kira-kira siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, "ada rekomendasi merek dan tipe ADSL modem + router + wifi"? Lalu saya ajukan pertanyaan saya ke teman tersebut melalui email. Tentu saja bisa juga melalui chatting, DM (Direct Message) di Twitter, message di facebook, dll. Dari berbagai pilihan media komunikasi, saya akhirnya memutuskan memilih bertanya melalui email.

Bingo! Ternyata teman yang saya tanya merekomendasikan suatu merek dan tipe produk. Teman tersebut juga menyatakan bahwa dia menggunakan produk tersebut dan merasa puas. Saya putuskan untuk membeli produk tersebut. Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu mencari-cari merek dan tipe produk yang beredar di pasar. Selanjutnya, di mana saya bisa membelinya? Nah, ternyata di Bogor tak ada kepastian, karena toko penjual perangkat elektronik dan komputer di Bogor tak selengkap di Jakarta. Selain itu, untuk produk yang volume penjualannya tidak terlalu banyak, harganya juga bisa berbeda cukup signifikan.

Saya buka website toko online komputer yang beroperasi di Jakarta. Barang tersebut ada dengan harga tertentu. Saya cari apakah ada toko online komputer yang beroperasi di Bogor. Ternyata ada, dan menawarkan produk yang sama tetapi dengan harga yang jauh berbeda. Saya putuskan untuk membeli dari toko online di Jakarta. Saya telpon, sayang barangnya tidak ready stock sehingga delivery-nya bisa memakan waktu yang cukup lama.

Saya sempat terpikir untuk mencoba mencari di pusat penjualan alat elektronik dan komputer di Bogor. Kalau tidak ada, mencarinya di pusat penjualan alat elektronik dan komputer di Jakarta. Tetapi saya hitung-hitung ongkosnya bisa lebih mahal. Ongkos transportasi, ongkos waktu, dan ongkos tenaga.

Karena saya sedang berada di Singapura dan besoknya akan pulang ke Bogor, saya putuskan untuk mencarinya di Sim Lim Square, salah satu pusat penjualan alat elektronik dan komputer di Singapur. Apakah saya akan pergi begitu saja ke Sim Lim Square dan mencari produk yang dimaksud dari satu toko ke toko lainnya?

Tentu tidak. Yang kemudian saya lakukan adalah ke mesin pencari. Mencari toko di Sim Lim Square yang menjual produk yang saya cari. Saya googling, keluarlah produk yang dimaksud di salah satu toko di lt.5 Sim Lim Square. Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari sini? Jika Anda memiliki toko, jangan ragu untuk memasang informasi produk dan toko Anda di internet. Walaupun toko Anda offline, bisa jadi konsumen Anda datang dari hasil mesin pencari. Ya, konsumen seperti saya :)

Sepulang kerja dari kantor, saya ke Sim Lim Square, langsung mencari toko yang dimaksud di lt.5. Disambut penjaga toko, saya langsung menanyakan produk yang dimaksud. Harganya lebih mahal daripada toko di Mangga Dua. Saya coba cari toko lain di lantai yang sama, harganya lebih mahal lagi ternyata. Akhirnya saya putuskan untuk membeli di toko yang namanya saya temukan di internet. Bayar, dan saya bergegas ke Masjid Sultan. Alhamdulillah sampai di masjid sebelum adzan maghrib. Barang yang dicari di Sim Lim dapat, berjamaah shalat magrhib di Masjid Sultan juga dapat.

Itu adalah salah satu contoh kisah saya, sebagai konsumen, mencari sebuah produk. Bayangkan jika saya berada pada posisi pemilik toko, atau penjual produk yang dimaksud. Apa yang harus saya lakukan? Memperhatikan pola Rekomendasi Teman dan Mesin Pencari, maka setidaknya ada 2 hal yang harus saya lakukan:

1). Lebih dekat ke konsumen / calon konsumen. Karena di era internet sekarang semakin banyak orang yang memanfaatkan media sosial, maka toko saya atau bisnis saya juga harus akrab dengan media sosial. Saya harus eksis di media sosial. Caranya? Salah satunya membuat facebook fan page untuk toko atau bisnis saya, membuat akun twitter, membuat Google+ fan page, dan seterusnya. Intinya, melalui media sosial, berusaha lebih dekat kepada konsumen dan calon konsumen.

2) Bisa ditemukan di internet. Ya, baik bisnis yang dijalankan secara offline maupun online, keduanya harus bisa ditemukan di internet, salah satunya ditemukan di mesin pencari. Buat website, tampilkan produk dan jasa bisnis yang ditawarkan. Lakukan SEO (Search Engine Optimisation) agar website teroptimasi dan menjadi search engine friendly.

Langkah nomor 1) bisa dikatakan sebagai bagian dari SMM (Social Media Marketing), dan langkah nomor 2) bisa dikatakan sebagai bagian dari SEM (Search Engine Marketing). Dengan kita melakukan SMM diharapkan bisnis atau usaha kita bisa lebih dekat kepada konsumen dan calon konsumen yang pada akhirnya diharapkan lebih banyak orang yang merekomendasikan bisnis kita. Dengan kita melakukan SEM diharapkan bisnis atau usaha kita bisa dengan mudah ditemukan di mesin pencari di internet.
[ Read More ]

Republik Petani


Saya bermimpi di dunia ini ada sebuah negeri bernama Republik Petani. Di negeri
itu, profesi yang paling digemari adalah menjadi petani. Selain karena tanahnya
subur, iklimnya bagus, hujan turun sepanjang tahun, matahari juga bersinar
sepanjang tahun, rakyat di negeri itu berkeyakinan menjadi petani adalah bentuk
rasa syukur kepada Sang Pencipta atas tanah subur yang dikaruniakan kepada
mereka. Menjadi petani berarti memakmurkan bumi, salah satu misi manusia menjadi khalifah di muka bumi.

Rakyat di Republik Petani juga meyakini bahwa dengan menjadi petani mereka bisa
hidup mandiri, memenuhi kebutuhan hidup tanpa tergantung kepada orang lain.
Dengan menjadi petani, mereka juga bisa memberi dari kelebihan hasil produksi.
Bahkan kelebihan hasil produksi membuat mereka bersyukur menjadi pembayar zakat
kepada negara.

Di Republik Petani, pekerjaan yang paling tidak diminati adalah menjadi pegawai
negeri. Dengan menjadi pegawai negeri, masyarakat merasa kurang berkontribusi,
bahkan cenderung merasa sebagai kaum yang diberi, karena mendapat gaji dari
sebagian zakat para petani.

Jika tidak dipaksa, mungkin tidak ada yang mau jadi pegawai negeri. Bahkan
banyak rakyat yang rela membayar denda daripada menjadi pegawai negeri.

Hey, ternyata ada lho negara yang disebut Republik Petani. Di negara itu 40%
tenaga kerja bergerak di bidang pertanian. Tetapi kebanyakan adalah buruh tani
tanpa lahan. Dan menjadi petani karena tak ada lagi pilihan.

Negara itu dikaruniai tanah yang subur, hujan turun dan matahari bersinar
sepanjang tahun. Negara itu menjadi pengekspor utama komoditas kopi, karet,
kelapa sawit, dan komoditas lainnya. Tetapi hanya sebagian kecil saja yang
menikmati itu semua.

Tetapi untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan, negara itu paling doyan impor.
Tahun 2011 tak kurang dari 2,6juta ton beras diimpor. Belum lagi impor daging,
susu, kedelai, dan komoditas bahan pangan lainnya.

Di negara itu banyak yang alergi jadi petani. Karena petani itu identik dengan
miskin, gak punya uang. Menjadi petani dinilai dengan berapa rupiah yang bisa
dihasilkan.

Sebaliknya, menjadi pegawai negeri adalah profesi impian. Setiap posisi jadi
rebutan. Bila perlu, sogok kiri-kanan. Bahkan bila terpaksa, jual pula itu tanah
warisan.

Ah, saya merindukan Republik Petani seperti yang saya sebutkan di awal tulisan.
Saya rindukan masyarakat yang gemar kembali ke alam, ke kampung-kampung,
bercocok tanam, beternak, dan berbagai aktifitas pertanian. Bukan, bukan berapa
jumlah uang yang bisa dihasilkan. Bukan berapa banyak kekayaan yang bisa
dikumpulkan. Bukan itu yang kita butuhkan.

Saya yakin sudah banyak beberapa orang yang melakukannya duluan. Hidup di
kampung dan tercukupi semua kebutuhan. Tidak ikut-ikutan lomba mengumpulkan
kekayaan, yang pada akhirnya semua itu ternyata hanyalah bayangan.

Puzzle-puzzle itu bertebaran. Puzzle-puzzle itu perlu disatukan, sehingga
membentuk rupa yang utuh yang kita bayangkan. Titik-titik itu perlu tali untuk
saling berhubungan. Saling melengkapi berbagai kekurangan, saling membantu
berbagai kebutuhan.


Perlu adanya komunitas yang bisa menjadi platform komunikasi antar petani. Dengan komunitas tersebut diharapkan akan terwujud kebangkitan Republik Petani.


*gambar dikutip dari http://tech.groups.yahoo.com/group/SW_FL_Small_Farms/
[ Read More ]

Kau Bilang Kau Cinta

Kau bilang kau cinta kepada orang tuamu, tapi kau tak pernah berkirim kabar, apalagi menemui mereka

Kau bilang kau cinta kepada pasanganmu, tapi kau jarang bicara lemah lembut padanya, sukanya marah-marah

Kau bilang kau cinta kepada anakmu, tapi kau tak pernah bisa bermain bersama mereka, kau terlalu sibuk bekerja

Kau bilang kau cinta kepada tubuhmu, tapi kau jarang olahraga, makan pun seenaknya

Kau bilang kau cinta kepada pekerjaanmu, tapi kau selalu mengeluhkannya, tak jarang kau bekerja asal saja

Kau bilang kau cinta kepada teman-temanmu, tapi kau tak pernah menghadiri undangan mereka

Kau bilang kau cinta kepada lingkungan, tapi sering kali kau buang sampah sembarangan

Kau bilang kau cinta kepada negaramu, tapi kau tega mencuri uang negara untuk memenuhi nafsumu

Kau bilang kau cinta kepada nabi, tapi kau tak pernah membaca kisah hidupnya, apalagi menjadikannya teladan

Kau bilang kau cinta kepada Tuhan, tapi kau tak pernah menghiraukan, tak tahu apa yang diperintahkan, tak peduli apa yang dilarang
[ Read More ]